Selasa, 26 Mei 2020, WIB

Kamis, 14 Mei 2020, 12:02:21 WIB, 10 View Administrator, Kategori : Kehutanan

23 April 2020

Oleh : Ahmad Haryadi, SST

Penyuluh Kehutanan Kec. Alian

 

Pendahuluan

Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain)merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian. Tumbuhan ini berupa semak (herba) yang dapat dijumpai tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.Tanaman porang mulai banyak dibudidayakan oleh petani atau masyarakat sekitar hutan. Porang dapat tumbuh di bawah naungan, sehingga cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis tanaman kayu atau pepohonan yang dikelola dengan sistem agroforestry. Budidaya porang merupakan upaya diversifikasi bahan pangan serta penyediaan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai komoditi ekspor di Indonesia. Komposisi umbi porang bersifat rendah kalori, sehingga dapat berguna sebagai makanan diet yang menyehatkan.

Taksonomi Dan Penyebaran

Tumbuhan porang termasuk ke dalam familia Araceae (talastalasan) dan tergolong genus Amorphophallus . Di Indonesia,  ditemukan beberapa spesies yaitu A. Campanulatus , A. oncophyllus,   A. variabilis, A. spectabilis, A. decussilvae, A. muellleri dan beberapa jenis lainnya.

Taksonomi porang

Regnum            : Plantae

Sub Regnum     : Tracheobionta

Super Divisio     : Spermatophyta

Divisio               : Magnoliophyta

Class                 : Liliopsida

Sub Class          : Arecidae

Ordo                  : Arales

Familia              : Araceae

Genus               : Amorphophallus

Species             : Amorphophallus oncophyllus Prain

Tumbuhan porang (Amorphophallus oncophyllus Prain)  sinonim dengan Amorphophallus muelleri Blume dan Amorphophallus blumei Scott. Porang dikenal dengan  beberapa  nama lokal, tergantung pada daerah asalnya seperti acung atau acoan oray (Sunda), kajrong (Nganjuk). Amorphophallus spp. awalnya ditemukan di daerah tropis dari Afrika sampai ke pulau-pulau Pasifik, kemudian menyebar ke daerah beriklim sedang seperti Cina dan Jepang. JenisA.Onchophyllus awalnya ditemukan di Kepulauan Andaman (India) dan menyebar ke arah timur melalui Myanmar lalu  ke Thailand dan ke Indonesia.

 

Morfologi

Tumbuhan porang mempunyai batang tegak, lunak, halus berwarna hijau atau hitam dengan bercak putih. Batang tunggal (sering disebut batang semu) memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah menjadi tangkai daun. Perkembangan morfologinya berupa daun tunggal menjari dengan ditopang  oleh satu tangkai daun yang bulat.  Pada tangkai daun akan keluar beberapa umbi batang sesuai musim tumbuh. Helaian daun memanjang  dengan ukuran antara 60 - 200 cm dengan tulang-tulang daun yang kecil terlihat jelas pada permukaan bawah daun. Panjang tangkai daun antara  40 - 180 cm dengan daun-daun yang lebih tua berada pada pucuk di antara tiga segmen tangkai daun.

Umbi porang terdiri atas dua macam, yaitu umbi batang yang berada di dalam tanah dan umbi katak ( bulbil ) yang terdapat pada setiap pangkal cabang atau tangkai daun. Umbi yang banyak dimanfaatkan adalah umbi batang yang berbentuk bulat dan besar, biasanya berwarna kuning kusam atau kuning kecokelatan. Pada setiap pertemuan batang dan pangkal daun akan ditemukan bintil atau umbi katak ( bulbil ) berwarna cokelat kehitam-hitaman yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan secara generatif.Bulbil ini merupakan ciri khusus yang dimiliki porang dan tidak ditemukan pada jenis tanaman iles lainnya.

 

Kondisi Ekologis Tumbuhan Porang

Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 m dpl,  namun tumbuh baik pada  ketinggian 100 - 600 m dpl. Pertumbuhan porang membutuhkan intensitas cahaya maksimum  40%, dapat  tumbuh pada semua jenis tanah pada  pH 6 - 7 (netral), dan tumbuh baik pada tanah yang gembur serta tidak tergenang air.  Tumbuhan porang sifatnya toleran naungan (membutuhkan naungan), sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis kayu-kayuan, yang dikelola dengan sistem agroforestry. Intensitas naungan yang dibutuhkan porang untuk mendukung pertumbuhannya adalah minimal 40%. Untuk mencapai produksi umbi porang yang tinggi diperlukan  intensitas naungan  antara 50 - 60%. Tumbuhan porang dapat dibudidayakan sebagai tanaman sela di antara pohon jati, mahoni, sonokeling, rumpun bambu, atau di antara semak belukar. Porang tumbuh optimal pada kondisi lingkungan, dengan suhu 25 - 35 °C dan curah hujan antara  300 - 500 mm/bulan. Produksi umbi yang optimal dapat diperoleh setelah tiga periode daur, yaitu sekitar tiga tahun.

 

Perbanyakan  Tumbuhan  Porang

Tumbuhan porang memiliki beberapa siklus (periode) pertumbuhan dimana satu periode siklus berlangsung selama 12 - 13 bulan. Siklus pertama dimulai pada musim penghujan yang ditandai dengan munculnya tunas berasal dari umbi, kemudian tunas akan tumbuh selama 6 - 7 bulan. Selanjutnya pada musim kemarau yang berlangsung selama 5 - 6 bulan, tunas akan mengering dan rebah. Siklus berikutnya dimulai pada awal musim hujan dengan tangkai daun dan diameter tajuk daun yang lebih panjang/lebar dibandingkan pada siklus sebelumnya. Tumbuhan porang yang sudah mengalami beberapa periode siklus memiliki umbi yang lebih berat. Umbi batang umumnya dipanen pada siklus ketiga. Pada siklus pertama dan kedua merupakan fase pertumbuhan vegetatif dan setelah siklus ketiga, mengalami fase pertumbuhan generatif Umbi batang yang tumbuh sehat dan suburberumur ± 1 tahun dapat dijadikan bibit.  Satu umbi hanya menghasilkan satu bibit  untuk ditanam Tumbuhan porang yang cukup tua dapat menghasilkan bulbil ±40 buah/pohon.

Tumbuhan porang dapat berkembang biak secara generatif melalui biji. Porang akan berbunga pada setiap periode 3 - 4 tahun, selanjutnya  menghasilkan biji/buah. Dalam satu tongkol buah dapat menghasilkan biji ±250 butir yang dapat dijadikan benih/bibit dengan cara disemaikan terlebih dahulu.

Porang dapat dipanen setelah tanamannya rebah dan daunnya telah kering. Pada saat itu, kandungan glukomanan   lebih tinggi dibandingkan pada saat sebelum rebah. Kandungan glukomanan pada awal pertumbuhan lebih rendah karena digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan daun. Setelah daun mengalami pertumbuhan yang maksimal, glukomanan tidak digunakan untuk proses metabolisme, sehingga terakumulasi pada umbi hingga mencapai fase dormansi.

 

Pengolahan Umbi Porang

Proses pengolahan umbi porang diawali  dengan mencuci umbi hingga bersih lalu diiris tipis dengan ketebalan 5 - 7 mm. Irisan umbi kemudian dihamparkan di atas nampan dan dikeringkan sampai kadar air mencapai ±12 %. Apabila pengeringan di bawah sinar matahari, maka dibutuhkan waktu 3 - 4 hari,   jika menggunakan oven maka dibutuhkan waktu hanya sekitar 2,5 jam dengan suhu ±80°C. Hasil proses pengeringan ini disebut ‘ chip ’ atau keripik porang. Chip akan digiling (ditumbuk) menjadi tepung selanjutnya dipisahkan antara serbuk manaan dan tepungnya. Cara pemisahannya dapat menggunakan ayakan 35 mesh atau blower . Serbuk manaan yang dihasilkan segera dikemas atau diolah karena bila terlalu lama akan berkurang daya lekatnya.

 

Prospek Pengembangan Tumbuhan  Porang

Porang (Amorphophallus onchophyllus Prain) merupakan jenis umbi-umbian yang memiliki potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Tumbuhan ini populasinya banyak dan  mudah diperbanyak, umbinya mengandung karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif.Umbi porang mengandung karbohidrat berbentuk polisakarida . Turunan karbohidrat ini dinamakan glukomanan yang memiliki sifat larut dalam air dan dapat difermentasi.

Glukomanan memiliki manfaat dalam bidang industri yaitu dapat digunakan sebagai bahan perekat kertas,bahan pengisi (filler) untuk pembuatan tablet (obat), pengikat mineral yang tersuspensi secara koloidal pada penambangan,serta sebagai penjernih air minum yang berasal dari sungai.

Struktur kimia glukomanan mirip dengan selulosa sehingga dapat digunakan dalam pembuatan seluloid, bahan peledak, isolasi listrik, bahan negatif film, bahan toilet, kosmetik dan bahan pemadat dalam media kultur jaringan.Umbi porang yang  mengandung glukomanan 15 % - 64 % (basis kering), dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri pangan dan kesehatan.



Kamis, 19 Mar 2020 PROGRAM KAMPUNG IKLIM (ProKlim)
Senin, 11 Feb 2019 BUDIDAYA CABE JAMU


Tuliskan Komentar


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'imagick' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: