Minggu, 12 Juli 2020, WIB

Jumat, 29 Mei 2020, 11:18:05 WIB, 1743 View Administrator, Kategori : Kehutanan

Oleh : Ahmad Haryadi, SST *)

 

I. Pendahuluan

Salah satu kebijakan Departemen Kehutanan adalah memanfaatkan kayu seoptimal mungkin (zero waste), yang berarti bahwa semua industri pengolahan kayu baik besar maupun kecil harus mengusahakan tidak menghasilkan limbah.  Namun demikian kenyataan di lapangan umumnya rendemen industri penggergajian kayu masih berkisar 50—60 persen, sehingga limbah (waste) mencapai 40—50  persen, terdiri dari  15—20 persen berupa serbuk kayu gergajian.  Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial.  Namun untuk industri penggergajian kayu skala kecil yang jumlahnya mencapai ribuan unit dan tersebar di pedesaan, limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal (Gusmailina, 2004).

            Kondisi sekarang limbah serbuk kayu gergajian hanya dibuang ke sungai dan dibakar begitu saja saat musim kemarau.  Padahal limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan nilai tambah yaitu dengan dibuat arang sebagai bahan pembuatan arang kompos. 

            Tujuan pemanfaatan limbah hasil hutan, khususnya limbah serbuk kayu gergajian adalah untuk meningkatkan manfaat limbah serbuk kayu gergajian sebagai bahan pembuatan arang kompos, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam memanfaatkan limbah serbuk kayu gergajian.

            Arang serbuk kayu gergajian sebagai bahan pembuatan arang kompos mempunyai manfaat antara lain dapat memperbaiki kondisi tanah (struktur, tekstur, dan pH tanah), sehingga memacu pertumbuhan akar tanaman, meningkatkan perkembangan mikroorganisme tanah (arang sebagai rumah mikroba), meningkatkan kemampuan tanah menahan air/menjaga kelembaban tanah, menyerap residu pestisida serta kelebihan pupuk di dalam tanah, dan dapat meningkatkan produksi serta rasa buah. 

            Pemanfaatan limbah serbuk kayu gergajian sebagai bahan pembuatan arang kompos dapat dilakukan dengan peralatan sederhana, pelaksanaan mudah, tidak menggunakan teknologi tinggi.  Pembuatan arang kompos sangat membantu petani dalam menyediakan pupuk bagi tanaman untuk usaha taninya dan dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan.

 

II. Pembuatan Arang

Proses pengarangan adalah proses membuat serbuk kayu gergajian menjadi arang serbuk kayu gergajian. Proses pengarangan serbuk kayu gergajian  adalah  sebagai berikut :

a). Cerobong dan penyangga ditempatkan di atas tanah yang rata.

b). Memasukkan umpan bakar berupa serpihan kayu/potongan kayu ke dalam cerobong setinggi lubang udara.  Agar mudah terbakar disiram sedikit dengan minyak tanah.  Kemudian bawah cerobong dimasukkan umpan bakar/kayu dan sekeliling cerobong ditaburkan serbuk kayu gergajian yang telah kering (dapat dilihat pada dibawah).

III. Pembuatan Arang Kompos dengan Aktifator EM4  

            Alat yang digunakan dalam pembuatan arang kompos adalah : parang, cangkul/skop,  termometer, karung goni, ember, gembor, gayung. 

            Bahan yang dibutuhkan untuk volume 100 kilogram  meliputi pupuk kandang (kotoran kambing) 10 kilogram,  sekam padi 30 kilogram,  arang serbuk kayu  gergajian 20 kilogram, jerami padi 30 kilogram, dedak 10 kilogram, EM 4 100 cc (setiap 5—10 liter air,  10 cc  EM 4 atau 2 sendok makan),  molase  100 cc atau gula putih 100 gram yang dilarutkan dalam air 100 cc air, dan air secukupnya ( lebih kurang 50 liter).

            Proses pembuatan arang kompos dengan aktifator EM 4 adalah sebagai berikut :

a).  Jerami padi dipotong kecil-kecil  dengan ukuran 2—3 sentimeter.

b).  EM 4 dan molase/larutan gula pasir dilarutkan ke dalam air sebanyak 50 liter.

c).  Potongan jerami, sekam padi, pupuk kandang  dan arang serbuk kayu gergajian diaduk secara merata dalam satu adonan.

d).  Dedak/bekatul ditaburkan pada adonan, kemudian diaduk kembali hingga tercampur rata.

e).  Campuran larutan EM 4, molase/larutan gula dan air disiramkan secara perlahan dan merata pada adonan (campuran potongan jerami, sekam padi, pupuk kandang, arang serbuk kayu gergajian) dengan gembor, sehingga kandungan air lebih kurang 20—30 persen (bila adonan dikepal dengan tangan tidak mengeluarkan air dan bila kepalan dibuka maka adonan akan mekar).

f).  Adonan dihamparkan di atas lantai (ubin) atau lantai tanah kering dengan ketebalan 15—20 sentimeter, kemudian ditutup dengan karung goni atau bahan lain yang tidak menghambat sirkulasi udara.

g).  Setelah 4—6 jam suhu adonan diukur  dengan menggunakan alat termometer. Suhu adonan dipertahankan pada temperatur antara   40—50  derajat Celcius, jika suhu lebih dari 50 derajat Celcius penutup adonan dibuka dan adonan dibolak-balik.

h).  Pengukuran suhu dilakukan setiap enam jam sekali selama 2 hari.

i).  Jika suhu sudah stabil berarti proses pembuatan arang kompos sudah selesai.

j).  Setelah 4—5 hari arang  kompos siap digunakan sebagai pupuk/dikemas.

*) Penyuluh Kehutanan Kec. Alian Kab.Kebumen

 

Daftar Pustaka :

Gusmailina, 2003. Pemanfaatan Serbuk Gergaji Untuk Arang dan Arang Kompos.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Gusmailina, Pari,G., Komarayati, S. 2004. Pedoman Pembuatan Arang Kompos. Puslitbang Teknologi Hasil Hutan. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.

Hety Indriani, Y.  2004. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yuwono, D.  2005. Kompos. Penebar Swadaya. Jakarta



Kamis, 19 Mar 2020 PROGRAM KAMPUNG IKLIM (ProKlim)


Tuliskan Komentar


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'imagick' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: