Selasa, 11 Desember 2018, WIB

Senin, 04 Jun 2018, 05:29:20 WIB, 34782 View Administrator, Kategori : Kehutanan

Oleh: Yoyok Tri Setyobudi, S.Hut. dan Loso Riyanto, STP.

Pendahuluan

Pada pertengahan bulan Juli 2015 warga Desa Candirenggo dan sekitarnya di Kecamatan Ayah dikejutkan oleh keberadaan buaya yang berjemur di tepian Sungai Kalibodo. Bukan hanya sekali dua kali fenomena langka ini dijumpai oleh warga desa melainkan hampir setiap hari. Sungai Kalibodo yang sebelumnya hanya dikunjungi oleh pemancingdari warga Desa Candirenggodan sekitarnya mendadak menjadi ramai dipadati oleh pengunjung yang penasaran ingin menyaksikan keberadaan buaya tersebut. Pengunjung yang datang bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar Kecamatan Ayah.

Keinginan pengunjung untuk melihat buaya di alam bebas ini tidak hanya terbatas di siang hari. Pada malam hari selepas pukul 19.00 beberapa kali terlihat ratusan pengunjung berkerumun di tepian Sungai Teba, anak Sungai Kalibodo, untuk melihat beberapa ekor buaya yang sedang menjelajah sungai untuk mencari makan. Hampir semua pengunjung merasa takjub melihat keberadaan buaya-buaya tersebut di alam liar. Rata-rata di antara mereka tak percaya bahwa Sungai Kalibodo menjadi habitat buaya.

Jauh sebelum adanya fenomena buaya-buaya yang sering menampakkan diri tersebut memang sesekali terdengar kabar adanya penampakan buaya di Sungai Kalibodo. Namun demikian, hampir semua warga Desa Candirenggo dan sekitarnya menganggap bahwa penampakan itu bukanlah buaya sungguhan. Hal tersebut erat kaitannya dengan mitos yang berkembang selama puluhan tahun di tengah kehidupan warga masyarakat Desa Candirenggo dan sekitarnya. Masyarakat mempercayai bahwa Sungai Kalibodo dihuni oleh makhluk astral yang bisa mengubah wujudnya menjadi seekor buaya.

Spesies Buaya di Sungai Kalibodo

Data IUCN/SSC Crocodile Specialist Group (1998) menyebutkan bahwa di dunia ini terdapat 23 spesies buaya. Empat spesies diantaranya hidup di habitat alami Indonesia, yaitu: buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae) di Papua, buaya muara (Crocodylus porosus) pada hampir setiap pulau besar, buaya kodok (Crocodylus siamensis) di Kalimantan dan Jawa serta buaya sumpit (Tomistoma schlegelii) di Kalimantan dan Sumatera.Keempat spesies buaya ini dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1999.

Merujuk pada data tersebut di atas hanya ada 2 spesies buaya yang menghuni habitat alami di Pulau Jawa, yaitu buaya muara dan buaya kodok. Sesuai dengan namanya, buaya muara secara umum menghuni habitat perairan payau berupa pantai dan sungai-sungai yang terkena pengaruh pasang surut.  Meskipun demikian, spesies ini juga mudah dijumpai pada perairan tawar seperti sungai, danau dan rawa-rawa (Webb et.al. 1987, Messel and Vorlicek 1989dalam Ross 1998).Berbeda dengan buaya muara yang lebih menyukaiperairan sungai pasang surut, buaya kodok menurut Smith (1919, 1931) dalam Ross (1998) memilih habitat berupa rawa-rawa air tawar dan bagian sungai dan alur yang berarus lambat, meskipun juga dapat dijumpai di danau dan sungai-sungai besar.

Kedua spesies ini sepintas terlihat sangat mirip sehingga sulit untuk bisa melakukan identifikasi tanpa mengamatisecara detail ciri-ciri fisiknya. Adanya overlapping habitat pada perairan tawar antara spesies buaya muara dan buaya kodok menyebabkan keberadaan habitat sulit digunakan sebagai penciri dalam membedakan kedua spesies buaya ini.

Di Sungai Kalibodo buaya-buaya ditemukan pada lokasi yang jauh dari muara sungai. Lokasi ditemukannya kawanan buaya yang terdekat berjarak ± 3 km dari muara. Sementara itu lokasi terjauh diemukannya buaya berjarak ± 7 km dari muara. Kondisi perairan di lokasi ini bukan air payau melainkan air tawar. Namun demikian buaya yang mendiami lokasi-lokasi tersebut bukanlah buaya kodok. Hasil pengamatan terhadap penampakan fisik buaya yang berhasil ditangkap masyarakat menunjukkan bahwa buaya tersebut dari spesies C. porosus.

Pada bagian kepala terdapat ciri fisik yang menjadi pembeda dari spesies C. siamensis.Tidak seperti buaya kodok, buaya muara tidak memiliki sisik besar di antara bagian belakang kepala dan bagian belakang lehernya.

Kondisi Habitat Buaya Muara di Sungai Kalibodo

Hasil wawancara dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa ada 5 lokasi  dimana buaya-buaya sering menampakkan diri, yaitu: meander sungai (Kedung Bonpu) di belakang MTs Al Ikhsan Desa Ayah, bantaran sungai di perbatasan Desa Candirenggo dan Ayah, Sungai Teba (anak Sungai Kalibodo) di Desa Candirenggo, di bawah Jembatan Sungai Kalibodo Desa Candirenggo dan meander sungai di Desa Banjareja Kabupaten Cilacap. Lokasi-lokasi tersebut berjarak lebih dari 3 km dari muara sungai.

Sungai Kalibodo tidak pernah kering dan perairan favorit bagi buaya-buaya untuk menampakkan diri memiliki relung cukup dalam dengan kondisi arus agak tenang. Tempat-tempat tersebut oleh masyarakat setempat biasa disebut kedung dan dikenal sebagai sarang ikan-ikan sungai.

Selain memiliki kedung lokasi-lokasi tersebut juga memiliki tepian yang landai dan tempat-tempat terbuka yang memungkinkan buaya-buaya naik dan berjemur. Pada beberapa tempat juga tersedia tepian sungai dengan kondisi tanah berlumpur dan ditumbuhi oleh rerumputan dan semak-semak sehingga menjadi tempat ideal bagi buaya untuk bersarang dan berkembang biak.

Kondisi penutupan vegetasi di muara Sungai Kalibodo dan bantaran sungai sejauh beberapa kilometer ke arah hilir yang terus meningkat kerapatannya dalam 10 tahun terakhir menjadi faktor menguntungkan bagi keberadaan buaya muara. Penanaman mangrove dari spesies Rhizophora mucronata yang cukup intensif dari tahun ke tahun telah memperluas area pemijahan jenis-jenis biota perairan seperti: udang, ikan, kepiting dan kerang-kerangan. Bahkan keberadaan vegetasi ini mampu mengundang kehadiran ratusan burung air dari spesies kuntul (Egretta intermedia). Semua jenis satwa tersebut merupakan sumber makanan bagi buaya muara.

Pada lokasi-lokasi di mana buaya sering ditemukan banyak dijumpai tanaman nipah (Nypa fruticans) pada bantaran sungainya. Tanaman tersebut telah ada sejak tahun ’90-an dan memiliki populasi yang cukup padat.  Pada beberapa tempat di bantaran sungai yang masih kosong dan memiliki substrat berlumpur saat ini telah ditanami dengan jenis Rhizophora mucronata.

Asal-Usul Buaya Muara di Sungai Kalibodo

Buaya muara yang ditemukan di Sungai Kalibodo diyakini sebagai satwa liar asli penghuni sungai tersebut, bukan berasal dari kegiatan lepas liar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ataupun migrasi dari tempat lain. Keyakinan ini didukung oleh temuan di lapangan, yaitu bahwa:

  • Individu buaya yang dijumpai berjumlah  paling sedikit6 ekor dengan ukuran yang beragam. Informan memberikan informasi tentang keberadaan buaya yang diduga sebagai induk, yaitu berukuran lebih dari 5 m. Ukuran sisik di bagian kepala yang terlihat seukuran kepalan tangan dengan warna hitam kebiru-biruan seperti luka lebam. Informan yang berbeda menginformasikan keberadaan anakan buaya seukuran lengan tangan orang dewasa. Sementara informan lainnya menginformasikan adanya buaya berukuran remaja (panjang ± 2 m) sebanyak 4 ekor yang terlihat sedang berjemur bersama. Pengamatan langsung di lapangan menemukan 2 ekor buaya dengan ukuran yang berbeda.Keragaman ukuran ini menunjukkan bahwa buaya yang ada merupakan hasil dari perkembang biakan secara alami di Sungai Kalibodo. Sangat kecil kemungkinannya orang melepasliarkan satwa karnivora dalam jumlah banyak dan beragam umurnya terlebih di pasaran gelap satwa ini memiliki harga yang cukup tinggi dan banyak diminati oleh hobiis dan pedagang kulit.
  • Keberadaan buaya di Sungai Kalibodo sudah terdeteksi sejak lama. Data hasil wawancara menunjukkan bahwa tahun 1968 pernah terlihat seekor buaya berukuran cukup besar dengan warna gelap mengapung di Kedung Bonpu. Pada tahun 1995 terlihat 2 ekor buaya melintas di bawah Jembatan Desa Candirenggo,  Selanjutnya di tahun 2004 seorang pencari ikan mendapati seekor buaya yang terperangkap dalam jala. Kejadian yang sama terjadi pada tahun 2014 di mana seekor buaya terperangkap jala dan 2  ekor lainnya berusaha untuk mendekatinya.  Kemunculan buaya semakin sering terdeteksi sejak awal tahun 2015 dan  saat ini keberadaannya mudah untuk disaksikan hampir setiap hari. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa buaya telah lama menghuni Sungai Kalibodo meskipun penampakannya selalu dikaburkan dengan mitos yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.
  • Keberadaan satwa liar di suatu tempat tentunya membutuhkan daya dukung lingkungan yang memadai untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Bukan hanya berupa dukungan tempat untuk perlindungan diri saja yang dibutuhkan melainkan juga tempat untuk perburuan mangsa dan berkembangbiak.Ketersediaan mangsa, sebagai faktor kunci dalam melangsungkan kehidupan, cukup memadai. Populasi nipah yang cukup padat di bantaran Sungai Kalibodo mendukung perkembangbiakan biota perairan sungai yang menjadi makanan bagi buaya, seperti: ikan, udang dan kerang. Nipah-nipah tersebut telah ada sejak puluhan tahun yang lalu.
  • Adanya situs Batu Kalbut di sisi timur bantaran Sungai Kalibodo memperkuat indikasi keberadaan buaya di Sungai Kalibodo. Menurut informan situs ini dahulunya difungsikan untuk meletakkan benda persembahan bagi buaya yang menghuni Sungai Kalibodo agar tidak menimbulkan korban jiwa.  
  • Berkembangnya mitos buaya jadi-jadian di tengah kehidupan masyarakat Desa Candirenggo dan sekitarnya juga mengindikasikan keberadaan buaya di Sungai Kalibodo. Mitos yang berkenaan dengan makhluk jadi-jadian pada umumnya dibangun atau berkembang di atas keberadaan makhluk yang secara riil/kasat mata memang pernah terlihat oleh masyarakat. Dalam kenyataannya beberapa warga dalam waktu yang berbeda-beda menyaksikan adanya penampakan buaya di perairan Sungai Kalibodo.
  • Terdapat dusun yang bernama Baya Wulung (Buaya Hitam) di sisi timur Sungai Kalibodo, tepatnya di Desa Bulureja. Sebagaimana lazimnya orang-orang pada zaman dahulu dalam memberikan nama sebuah tempat/daerah yang selalu dikaitkan dengan keberadaan benda/makhluk ataupun kejadian yang cukup menyita perhatian di tempat/daerah tersebut, nama Baya Wulung diduga kuat dinisbatkan pada sosok buaya yang hidup di perairan Sungai Kalibodo.
  • Di tengah kehidupan masyarakat desa di sisi timur tepian Sungai Kalibodo pernah dikenal ada warga desa yang menggeluti profesi sebagai pawang buaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pawang buaya didefinisikan sebagai orang yang memiliki keahlian istimewa dalam hal menangkap atau menjinakkan buaya. Merujuk pada definisi tersebuttentunya keberadaan profesi pawang buaya berkaitan erat dengan keberadaan obyek buaya yang menjadi sasaran kerja dari profesi tersebut. Tanpa adanya obyek yang dimaksud, yaitu buaya, tidak mungkin profesi tersebut akan ada.  

Penutup

Buaya yang menghuni Sungai Kalibodo berasal dari spesies buaya muara (Crocodylus porosus). Buaya-buaya ini diperkirakan sudah mendiami Sungai Kalibodo sebelum tahun 1968. Daya dukung sungai sebagai habitat buaya cukup bagus. Sungai ini menyediakan kebutuhan makanan, tempat berlindung dan tempat berkembang biak bagi buaya.

Daftar Bacaan

Ross J.P. (ed.). (1998) Crocodiles. Status Survey and Conservation Action Plan. 2nd Edition. IUCN/SSC Crocodile SpecialistGroup. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK. viii + 96 pp.

http://limburan.blogspot.com/

http://crocodilian.com/

http://kbbi.web.id/

http://people.duke.edu/



Senin, 04 Jun 2018 BUDIDAYA KAPULAGA


Tuliskan Komentar